Bayangkan, besok tiba-tiba pandemi hilang….blass….hilang begitu saja tak bersisa. Dan kita mendapati udara yang lebih bersih karena hampir setahun orang-orang terbatas keluar rumah, pabrik-pabrik jeda beroperasi, termasuk tambang berhenti beroperasi sehingga tingkat polusi menjadi rendah. Kemudian kita bisa melihat anak-anak lebih dekat dengan orang tuanya dan keluarga lebiih solid karena “terpaksa” bersama-sama dalam waktu yang panjang. Para suami jadi paham bagaimana repotnya pekerjaan istri ketika mereka WFH dan akhirnya terlibat dalam berbagai kegiatan domestik rumah tangga. Anak-anak juga dilibatkan dalam mengurus rumah tangga bukan hanya “sekolah-main” seperti masa-masa sebelumnya. Anak-anak memahami peran ibu dan lebih menghormati orang tuanya ketika mereka melihat bahwa sepanjang waktu ibu dan ayahnya bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Jika pandemi berakhir, yang paling menyenangkan tampaknya adalah keluarga kita dapat berwisata, berjalan-jalan ke berbagai tempat tanpa khawatir tertular atau menulari virus Corona. Oke, sampai sini kita sudah bisa tersenyum dan meregangkan otot kepala ya…life is not that bad anyway 🙂 Kembali ke pembahasan awal…yok bisa yok!

Ternyata, Covid 19 masih ada dan kita tetap harus melanjutkan kehidupan kita berdampingan dengan si virus ini. Apa yang harus kita lakukan ? Apakah marah-marah, komplen tak berujung, menyalahkan keadaan lalu menyakiti diri sendiri akan membuat si virus kabur selamanya dan mengembalikan situasi menjadi normal seperti sediakala? Oh, tentu tidak. Kali ini manusia ditantang oleh alam dan peradaban untuk mengoptimalisasi kemampuan manusia yang membuat manusia dapat bertahan hidup dalam berbagai peradaban hingga saat ini yaitu kemampuan adaptasi. Pertanyaannya, apakah manusia masih ingat kemampuan beradaptasi atau malah sudah lupa ya saking lamanya status quo ? Semoga masih ingat ya…..

Sebenarnya kemampuan adaptasi apa yang dibutuhkan manusia (dalam hal ini keluarga) agar dapat bertahan hidup dan berhasil keluar kembali menjadi pemenang? Coba kita identifikasi dahulu kegiatan keluarga apa saja yang mengalami perubahan cara kerja atau metode selama pandemi Covid 19. Dari hal yang paling krusial yaitu soal perut, apakah ada perubahan cara cara memasak dan menyajikan makanan dirumah ? Rasanya tidak. Yang mungkin berubah mungkin pemenuhan bahan pangan dan distribusinya. Bisa jadi karena situasi “karantina” dan tidak bisa kemana-mana, para ibu kemudian menanam sendiri sayur-sayuran dan tanaman obat dirumah sehingga dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Para ibu tidak lagi berbelanja ke mall tetapi lebih memilih berbelanja ke tukang sayur dekat rumah. Sebagian lagi sudah memanfaatkan teknologi untuk berbelanja online dengan menggunakan aplikasi digital. Dalam hal ini kita dapat melihat kekuatan keluarga, komunitas atau lingkungan terdekat dan teknologi digital yang dapat diberdayakan dan membantu memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Kata kuncinya adalah komunitas lokal dan teknologi digital. (Bersambung)

Penulis, Asrilla Noor 

========================================================================

Untuk mendapatkan versi tulisan lengkap ikutilah Webinar Literasi Digital Keluarga Seri 1,  Minggu 24 November 2020, pkl. 10.00-12.00 WIB melalui Zoom Meeting. Dapatkan ebook dan sertifikatnya.

Join via link : https://us02web.zoom.us/j/82035081700?pwd=V29Sam9CaHlYWnE3d3JUVXFzamNKZz09
Meeting ID: 820 3508 1700
Passcode: zairahaes

Narasumber

Nina Regina, Graphic Designer & Minokika Children Edu-Creative Tech Founder.

Asrilla Noor, Owner & Founder Sekolah Mandiri Zedutopia, Ketua Yayasan Zairahaes, Praktisi Pendidikan, Pegiat Pendidikan Keluarga dan Literasi Digital.

Moderator

Fajar Rachmansyah, personil Blue ‘n Berry Band.

Sekolah Mandiri Zedutopia

Leave a Reply