Disrupsi belajar di era teknologi digital sedang kita alami.  Kata “disrupsi” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna hal tercabut dari akarnya. Dalam bahasa sehari-hari dapat diartikan sebagai perubahan mendasar atau fundamental. Di dalam era teknologi digital seperti saat ini, disrupsi dapat dimaknai sebagai sebuah perubahan besar-besaran, inovasi yang menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disrupsi juga berpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan pemain baru.

Dalam era disrupsi teknologi seperti sekarang ini, kreativitas dan inovasi menjadi kata kunci. Cara-cara lama harus segera diganti dengan cara-cara baru, karena jika tidak maka kita akan lebih jauh tertinggal. Misalnya cara baru dalam belajar. Dulu, kita diajarkan untuk menghafalkan sangat banyak materi sehingga pada saat ujian kita menjadi “perpustaan berjalan” yang seakan-akan mengetahui begitu banyak hal. Jika pengetahuan kita tidak sama dengan isi buku teks yang diajarkan maka kita akan dianggap bodoh dan dianggap belum menguasai materi pelajaran. Cara belajar ini menguras banyak sekali energi untuk menguasai informasi terbatas yang kita dapatkan dalam buku-buku teks.

Kemudian, cara belajar beralih pada belajar melalui pengalaman. Kita dituntut untuk “mengalami” sebuah peristiwa dan mencoba memahami pengalaman orang lain dengan cara belajar cara hidup seperti cara hidup orang lain atau pengalaman lain. Dari cara belajar ini kita diharapkan mampu untuk memahami sebuah pengalaman dengan melakukannya langsung dalam jangka waktu tertentu. Tentunya cara belajar seperti ini cukup efektif untuk memberikan pengalaman baru namun tidak efisien karena membutuhkan waktu lama dan biaya cukup tinggi.

Di era disrupsi digital, cara-cara belajar lama ternyata tidak “compatible” dengan tuntutan pembelajaran digital. IoT, memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan manusia bukan hanya pengetahuan di dunia pendidikan, namun segala macam informasi yang berkaitan dengan kehidupan manusia. You don’t need to memorize anything anymore, just click your browser, type your keyword, and you get what you need. Kecanggihan big data dan search engine memungkinkan hal tersebut terjadi. Dengan segala rupa informasi yang dapat kita temukan dari search engine, tantangan belajar bukan lagi bertumpu pada penguasaan informasi. Tantangan belajar hari ini adalah bagaimana cara menyeleksi dan memfilter informasi yang benar-benar valid dan bermanfaat, bukan informasi hoax. 

Kemampuan untuk memfilter informasi yang benar membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan agar mampu membantun kemampuan berpikiri kritis dibutuhkan pendekatan pembelajaran yang terbuka (open minded) serta memberikan peluang peserta belajar untuk menguji asumsi dan argumentasinya. Guru tidak lagi menjadi “gudang ilmu” melainkan berperan sebagai fasilitator untuk mengarahkan jalannya proses belajar sehingga kemampuan berpikir (bukan menghafal) dapat terbangun. Seperti yang dikatakan Einstein, “education is not the learning of facts, but training the minds to think”. 

Penulis, Asrilla Noor

Leave a Reply